Halaman

Tampilkan postingan dengan label Parasitologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parasitologi. Tampilkan semua postingan

14 November 2012

Makalah Rhizopoda


BAB I
PENDAHULUAN
1.1              Latar belakang
            Manusia merupakan hospes enam spesies ameba yang hidup dalam rongga usus besar yaitu Entamoeba histolytica, Entamoeba coli, Entamoeba hartmanni, Jodamoeba butschlii, Dientamoeba fragilis, Endolimax nana, dan satu spesies ameba yang hidup dalam rongga mulut yaitu Entamoeba gingifalis. Di mana semua spesies Entamoeba ini hidup sebagai komensal pada manusia kecuali Entamoeba histolytica.
            Selain hidup pada rongga usus besar, golongan Rhizopoda ada pula yang hidup bebas di air tawar, air laut, atau tempat berlumpur. Di antara ameba golongan Rhizopoda yang hidup secara bebas ( free living ameba ) ada dua genus yang hidup fakultatif dan patogen pada manusia, yaitu genus Naegleria dan Achantamoeba yang dapat menyebabkan penyakit Meningitis amebic.
            Oleh karena itu perlunya menambah wawasan tentang beberapa spesies rhizopoda khususnya spesies – spesies yang patogen terhadap manusia. Agar dapat mencegah timbulnya penyakit yang disebabkan oleh spesies – spesies Rhizopoda ini.

1.2.      Tujuan penulisan
1)         Sebagai salah satu syarat untuk memenuhi nilai mata kuliah Praktikum Parasitologi.
2)         Untuk mengetahui berbagai macam spesies yang tergolong Rhizopoda, khususnya yang patogen dan berbahaya bagi manusia.
3)         Untuk menambah wawasan tentang golongan Rhizopoda.

BAB II
ISI
2.1       Definisi Rhizopoda
Protozoa merupakan makhluk hidup yang menyerupai hewan. Protozoa hidup di air tawar (selokan, parit, sungai, dan waduk), air laut, permukaan tanah yang lembap, rendaman jerami, dan di dalam tubuh makhluk hidup lain atau di dalam jasad yang mati.
Protozoa merupakan makhluk hidup bersel satu yang bersifat mikroskopis. Segala aktivitas hidup terjadi di dalam sel itu sendiri. Pada keadaan tertentu, Protozoa dapat membentuk dirinya menjadi kista. Protozoa dapat berkembang biak dengan cara aseksual dan seksual. Secara aseksual dilakukan dengan membelah diri dan secara seksual dengan konjugasi.
Protozoa dibagi menjadi enam filum, yaitu Rhizopoda atau Sarcodina (berkaki semu), Actinopoda, Foraminifera, Flagellata atau Mastigophora (bercambuk), Ciliata (berambut getar), dan Sporozoa (penghasil spora).
Rhizopoda adalah Protozoa yang mempunyai alat gerak berupa kaki semu (pseudopodia). Salah satu contoh Rhizopoda adalah Amoeba sp. Manusia merupakan  hospes enam spesies ameba yang hidup di rongga usu besar yaitu Entamoeba histolytica, Entamoeba coli, Entamoeba hartmanni, Iodamoeba butschilii, Dientamoeba fragilis, Endolimax nana dan satu spesies yang hidup di mulut, yaitu Entamoeba gingivalis. Semua ameba ini tidak pathogen, hidup sebagai komensal pada manusia, kecuali E,histolytica yang menjadi pathogen.
Rhizopoda termasuk protista mirip hewan. Rhizopoda bergerak dan menangkap makanannya dengan kaki semu (pseudopodia). Tubuh Rhizopoda bersel tunggal dan bentuk selnya dapat berubah-ubah. Hewan dari filum ini hidup bebas di air tawar, air laut, atau tempat berlumpur.
2.2       klasifikasi golongan rhizopoda
1.    Ameba Yang Hidup di Rongga Usus Besar
a)      Entamoeba histoytica
                        Morfologi
Sebagai hospes adalah manusia dengan penyakit  amebiasis
Ada 3 stadium, meliputi :
  Bentuk Histolitika/Tropozoit
Ukuran      : 20-40 µ
Inti                        : + di endoplasma
Endoplasma : berisi sel darah merah
Ektoplasma  : bening,homogen di tepi sel,pseudopodia besar dan lebar seperti daun
Tempat hidup : jaringan usus bessr, hati,paru,otak,kulit dan vagina
Bersifat : patogen
  Bentuk minuta
Ukuran      : 10 – 20 µ
Inti                        : +  di endoplsma
Endoplasma : berisi bakteri dan sisa makanan
Ektoplasma  : pseudopodia dibentuk perlahan shg gerakannya lambat
Tempat hidup : komensal di rongga usus besar
Bersifat non patogen, tapi tanpa bentuk ini daur hidup ameba ini tidak dpt berlangsung.         
  Bentuk kista
Ukuran                 : 10 – 20 µ
Inti                        : +   2 - 4
Endoplasma : benda kromatoid bsr seperti lisong, vakuol glikogen
Tempat hidup : komensal di rongga usus besar
Bersifat non patogen, merupakan bentuk infektif
Infeksi dapat terjadi jika menelan kista matang.
Patogenesis dan gambaran klinis.
Bentuk histolytica memasuki mukosa usus besar yang utuh kemudian mengeluarkan enzim yang dapat menghancurkan jaringan ( melisiskan ). Enzim ini adalah enzim cysteine proteinase yang disebut histolisin.
Kemudian bentuk histolitika memasuki submukosa dengan menembus lapisan muskularis mukosae, bersarang di submukosa dan membuat kerusakan yang lebih luas dari pada di mukosa usus. Akibatnya terjadi luka yang disebut ulkus ameba.
Apabila terjadi infeksi sekunder maka terjadilah proses peradangan yang dapat menyebabkan kerusakan lebih meluas di submukosa dan melebar ke lateral sepanjang sumbu usus, maka kerusakan dapat menjadi luas sekali sehingga ulkus-ulkus saling berhubungan dan terbentuk sinus-sinus di bawah mukosa.
Bentuk histolitika ditemukan dalam jumlah besar di dasar dan dinding ulkus. Dengan peristalsis usus, bentuk ini dikeluarkan bersama isi ulkus ke rongga usus kemudian menyerang lagi mukosa usus yang sehat atau dikeluarkan bersama tinja. Tinja ini disebut tinja disentri yaitu tinja yang bercampur lendir dan darah.
Tempat yang sering dihinggapi ( predileksi ) adalah sekum, rectum, sigmoid. Seluruh kolon dan rektum dapat dihinggapi bila infeksi berat. Bentukklinis yang dikenal adalah amebiasis intestinal dan amebiasis ekstraintestinal.
Cara menegakkan diagnosis / diagnosis banding.
Diagnosa dapat ditegakkan dengan
1.      Diagnosa klinik
2.      Diagnosa laboratorium
3.      Radio foto, dan
4.      Test imunologi
Diagnosa untuk Amoebiasis hystolitica dapat dibagi :
1.      Amoebiasis intestinal akut, dapat ditegakkan dengan :
a.       Gejala klinik yaitu diare yang terjadi ± 10 kali sehari disertai demem dan sindrome disentri.
b.      Laboratorium dengan ditemukannya E. Hystolitica stadium hystolitica pada tinja encer yang bercampur darah . Pada pemeriksaan darah terjadi leukositosis.
2.      Amoebiasis intestinal akut, dapat ditegakkan dengan :
a.       Gejala klinik: diare bergantian dengan koptipasi. Jika terjadi eksaserbasi akut, biasanya terjadi sindroma disentri.
b.      Laboratorium, menemukan E. Hystolitica stadium kista padfa tinja yang agak padat. Pada pemeriksaan ini lebih sulit untuk menemukan parasit ini, maka perlu dilakukan pemeriksaan berulang sampai tiga kali. Dapat pula dilakukan sigmoidoskopi dan reaksi serologi.
3.      Amoebiasis hepatitis
a.       Pemeriksaan klinik, penderita datang dengan kesakitan, membungkuk seperti menggendong perut sebelah kanan, disertasi demam, berat badan menurun atau nafsu makan berkurang. Pada palpasi hati teraba hati yang membesar dengan nyeri tekan.
b.      Laboratorium, darah ditemukan leukositosis. Pada biopsi dasar abses ditemukan E. Hystolitica stadium hystolitica. Pada aspirasi nanah dapat ditemukan E. Hystolitica stadium hystolitica. Bila tidak ditemukan, dapat dilakukan test serologi yaitu test haemaglutinasi dan test immunologi.
4.      Amoebiasis paru
a.       Pemeriksaan klinik sukar dibedakan dengan infeksi paru lainnya, hal ini karena tidak ada laporan mengenai gejala klinik yang khas dari amoebiasis paru.
b.      Laboratorium, sputum penderita yang berasal dari penyebaran amoebiasis secara hematogen akan ditemukan E. Hystolitica stadium hystolitica.
Pengobatan.
Menggunakan obat amebisid yang penting yaitu :
1.      Emetin hidroklorida
Obat ini berkhasiat terhadap bentuk histolitika. Pemberian emetin ini hanya efektif bila diberikan secara parenteral, karena pada pemberian secara oral absorpsinya tidak sempurna. Toksisitasnya relatif tinggi, terutama terhadap otot  jantung. Dosis maksimum untuk orang dewasa adalah 65 mg/hr, dan anak di bawah 8 tahun 10 mg/hr. Lama pengobatan 4-6 hari.
2.      Klorokuin
Obat ini merupakan amebisit jaringan, berkhasiat terhadap bentuk histoitika. Efek samping dan efek toksiknya bersifat ringan, antara lain mual, muntah, diare, dan sakit kepala. Dosis untuk orang dewasa adalah 1 g/hr selama 2 hari, kemudian 500 mg/hari selama 2-3 minggu. Obat ini juga efektif untuk amebiasis hati.
3.      Antibiotik
Tetrasiklin dan eritromisin bekerja secara tidak langsung sebagai amebisit dengan mempegaruhi flora usus. Paromomisin bekerja langsung pada ameba. Dosis yang di anjurkan adalah 25 mg/kg berat badan/hari selama 5 hari, diberikan secara terbagi.
4.      Metronidazol ( Nitroimidazol )
Metronidazol merupakan obat pilihan, karena efektif terhadap bentuk histolitika dan bentuk kista. Efek samping ringan, antara lain mual, muntah, dan pusing. Dosis untuk orang dewasa adalah 2 gr/hari selama 3 hari berturut-turut, diberikan secara terbagi.
Epidemiologi
1.    Amebiosis ditularkan oleh pengandung kista matang (carrier) karena tinjanya merupakan sumber infeksi.
2.    Air, makanan, sayuran, dan lalat yang terkontaminasi oleh tinja carrier dapat sebagai sumber infeksi.
3.    Kista matang sebagai bentuk infektif dapat hidup 10-14 hari (dalam air), ± 12 hari (lingkungan lembab dan dingin. Tahan terhadap klor (cl2).
4.    Kista mati pada suhu 500 C dan kering.

Gambar spesies
Bentuk trofozoid
Bentuk kista


b)     Entamoeba coli
    Morfologi
 Entamoeba coli merupakan parasit usus besar, frekuensi 10 sampai 30% di dunia. Lingkaran hidup samaE.histolytica, hanya saja untuk Entamoeba coli tidak terdapat ekstra Intestinal.
Morfologi berbentuk tropozoit dan kista. Bentuk tropozoit berukuran 20 – 40 µm, Ektoplasma dan endoplasmatidak memiliki batas yang jelas, pseudopodia agak membulat, gerakannya lambat dan tidak bertujuan. dalamEndoplasma ; didapatkan adanya bakteri-bakteri, khromatin body, sel-sel tumbuh-tumbuhan, eritrosit tidak ada.Nukleus (inti) ; letak kariosome eksentrik, perifer khromatin kasar (membran inti kasar), dan terdapat halo.
Bentuk kista berukuran 10 – 33 µm, berbentuk bulat, dinding jelas refraktil dan berlapis dua. Inti antara 1 – 8 dengan kariosom eksentrik. Inklusi hanya merupakan batang kromodial yang ramping rudimenter. Bentuk kista pada stadium dewasa (matur) terdapat 8 inti. Diagnosa laboratorium ; sama seperti Entamoeba histolytica.

Patologi dan gejala klinis
Entamoeba coli bukan merupakan golongan yang patogen baik terhadap manusia maupun hewan (hidup komensal di usus besar).

Cara menegakkan diagnosis / diagnosis banding
Diagnosa ditegakan dengan menemukan bentuk trofozoit atau bentuk kista dalam tinja
Pengobatan
Karena Entamoeba coli bukan merupakan bakteri patogen (flora normal), maka tidak ada pengobatan untuk Entamoeba coli.

Epidemiologi
Entamoeba coli tidak menimbulkan penyakit pada manusia.

Gambar spesies
Bentuk kista
c)      Entamoeba hartmani
     Morfologi
Kista dari E.hartmanni sangat mirip dengan E. histolytica, tetapi lebih kecil, kurang dari 10 microns. Sangat sering berisi kurang dari 4 nuclei tetapi 4 nuclei adalah karakteristik dari jenisnya. Kistanya juga berisi chromatoidal bar.
Namun, mereka sedikit lebih kecil dan lebih banyak. Tropozoid dari E. hartmanni berukuran 5-12 micron juga sedikit lebih kecil daripada yang E. histolytica dan sering berisi banyak parasite / Hypeparasite.
Ukuran dari tropozoid diubah oleh keberadaan hyperparasites. Perawatan harus diambil ketika terjadi diferensiasi tropozoid dari E. hartmanni dan E. histolytica. Spesies yang ditemukan dalam usus besar dari manusia, lain kera, dan anjing.

Patogenesis
Entamoeba hartmanni dianggap nonpathogenic. Walaupun Entamoeba hartmanni dianggap nonpathogenic, protozoa ini dapat dianggap sebagai indikator dari kontaminasi fecal.

            Cara menegakkan diagnosis / diagnosis banding
Karena pada sediaan basah organisme ini sulit dibedakan dengan amoeba lain yang berukuran hampir sama, identifikasinya dilakukan dengan sediaan pulasan permanen. Dengan pengukuran yang akurat akan lebih memastikan diagnosa.
                        Pengobatan
Tidak ada sistem pengobatan untuk Entamoeba hartmani karena spesies Rhizopoda jenis ini bukan merupakan organisme yang patogen pada manusia
                        Gambar spesies

d)     Iodamoeba butschlii
Morfologi
Iodamoeba butschlii frekuensi kasusnya sebanyak ± 8% pada manusia, berinti khas, kista tidak teratur dan benda glikogen yang besar dalam kista berinti 1. Iodomoeba butschlii mempunyai pseudopodia tumpul dan dikeluarkan mempunyai 3 bentuk stadium, yakni bentuk tropozoit, prekista, dan kista.
Bentuk tropozoit berukuran 6 – 20 µm (rata-rata 10 µm), ektoplasma sedikit/hampir tidak terlihat, pergerakan agak aktif dengan pseudopodia tumpul dan jernih, endoplsma mempunyai sitoplasma granuler dengan partikel makanan, bakteri, kristal, sel tumbuh-tumbuhan, sering dalam vakuole. Dan tidak makan sel darah merah. Inti berbentuk khas dan bulat, kariosom berbentuk bulat dan letaknya di tengah-tengah, hampir memenuhi inti, antara kariosom dan inti terdapat benang-benang.
Bentuk kista berukuran 5 – 18 µm, dengan bentuk ireguler. Glikogen vakuole berbatas tegas dan jelas, serta batang kromidial tidak ada. Jumlah inti hanya 1, kecuali kista yang akan pecah terdapat 2 inti. Diagnosa laboratorium ; sama seperti pemeriksaan E.histolytica.



Patogenesis
Sama seperti Entamoeba hartmani, Iodamoena butschlii juga bukan merupakan ameba patogen pada tubuh manusia atau tidak berbahaya dan hanya hidup komensal di usus besar.
Gambaran klinis
Karena Iodamoeba butschlii bukan merupakan ameba yang patogen, maka tidak menyababkan penyakit sehingga tidak ada gejala klinis yang dapat ditemukan sebagai akibat dari Iodamoeba butschlii.

Cara menegakkan diagnosis / diagnosis banding
Meski kistanya dapat diidentifikasikan dengan sediaan basah, terutama bila vakuol dipulas dengan iodium, trofosoitnya sulit dideteksi dan diidentifikasi tanpa sediaan pulasan permanen.
Pengobatan
Tidak ada pengobatan untuk Iodamoeba butschlii karena tidak bersifat patogen.

Gambar spesies
Bentuk trofozoit
Bentuk kista

e)      Dientamoeba fragilis
Morfologi
Dientamoeba fragilis mempunya bentuk bulat memanjang, bulat, dan memiliki flagela. Dientamoeba fragilis hanya ditemukan dalam fase trophozoit, tidak ditemukan fase kistanya. Ciri trophozoit:
•Ukurannya kecil (5 to 15 μm)
•Berinti dua
•Bentuk bulat (saat tidak bergerak)
•Pergerakannya cepat
•Pseudopodium banyak dengan bentuk seperti daun
Patogenesis
Infeksi oleh Dientamoeba fragilis disebut Dientamoebiasis, dengan gejala nyeri di bagian perut, penurunan berat badan, diare, anoreksia, mual-mual, dan demam. Jika infeksi sudah kronis, gejala yang muncul akan berlangsung hingga lebih dari dua bulan.
Gambaran klinis
Ciri – ciri orang yang terinfeksi Dientamoeba fragilis akan mengalami penurunan berat badan, diare, anorexia, nyeri di bagian perut, mual, serta demam dalam waktu yang cukup lama.
Cara menegakkan diagnosis / diagnosis banding
Diagnosa tergantunbg dari teknik pengumpulan dan teknik prosesing yang benar ( paling sedikit disiapkian 3 spesimen tinja ).
Morfologi masanya terbatas, sehingga pemerikisaan tinjanya harus segera diawetkan/ fiksatif setelah defekasi. Yang penting dibuat pilasan permanen dan diperiksa dengan mikroskop obyektif 100x + oil emersi
Gambar spesies
Bentuk trofozoit


f)       Endolimax nana
Morfologi
•Merupakan spesies yang komensal di usus
•Merupakan protozoa yang hidup parasit di dalam alat pencernaan dan alat kelamin manusia
•Tropozoitnya berbentuk bulat, sitoplasma seperti jala dan mengandung bakteri
•Endosome umumnya berbentuk segitiga, segiempat/sisinya takteratur, letaknya ditengah
•Kista sitoplasmanya seperti jala, inti bervariasi jumlahnya dari satu–empat, dan strukturnya sama seperti tropozoit

Patogenesis
Bukan merupakan ameba yang patogen pada tubuh manusia.

Cara menegakkan diagnosis / diagnosis banding
Diagnosa pasti dilakukan berdasarkan pulasan pernmanen, kista dapat diidentifikasi berdasarkan pemeriksaan basah sepertiteknik konsentrasi dan flotasi. Kariosom keempat intinya sangat refraktil pada sediaan basah.
Gambar spesies
bentuk trofozoit dan bentuk kista
2)       Ameba yang hidup di Rongga Mulut
                        a)         Entamoeba gingivalis
                        Morfologi
Keseluruhan mengandung butir-butir atau banyak vakuola terutama vakuola-vakuola makanan di dalam sitoplasma.
·         Inti sel berbentuk bola, diameternya 2-4 mikron
·         Terdapat endosome di dalam ini yang terletak hampir di tengah
·         Tidak mempunyai kista, tetapi di dalam kulture ada bentuk kistoid
·         Ukurannya kira-kira 12-30 mikron diameternya

Patogenesis
Entamoeba gingivalis sebelumnya dianggap parasit yang komensal, sampai akhirnya beberapa peneliti menemukan bahwa E. gingivalis bersifat patogen yaitu dapat memfagosit sel darah putih dan sel darah merah.
Cara menegakkan diagnosis / diagnosis bandin
Diagnosa ditemukan dalam pulasan permanen, dimana fragmen inti dari sel darah putih dapat terlihat dalam vakuola makanan yang biasanya lebih besar dari pada E. Hystolitica, karena E, gingivalis merupakan satu-satunya spesies yang hanya memfagosit sel lekosit.
Gambar spesies
Bentuk trofozoit
2.3       Prognosis
Terapi obat dapat menyembuhkan amebiasis dalam beberapa minggu. Namun, karena obat tidak dapat mencegah Anda dari mendapatkan terinfeksi lagi, ulangi episode amebiasis dapat terjadi jika Anda terus hidup atau bepergian ke daerah dimana amuba ditemukan. 
Diantara anak-anak di negara berkembang, terutama bayi dan orang-orang muda dari 5, amebiasis pencernaan bisa berakibat fatal. Seluruh dunia, amebiasis adalah penyebab paling umum ketiga kematian karena infeksi parasit.
BAB III
PENUTUP
3.1       Kesimpulan
Tidak semua spesies Rhizopoda merupakan bakteri patogen, akan tetapi penting untuk dipelajari sebagai pembanding dengan spesies yang lain.

3.2       Saran
Kepada pembaca sekalian, penulis menyarankan agar pembaca sekalian menjaga kesehatan dan kebersihan diri sehingga terhindar dari infeksi ameba yang patogen.


28 Oktober 2012

Identifikasi Nyamuk


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
            Di era yang modern ini masih saja banyak masalah kesehatan yang di timbulkan oleh serangga, salah satunya adalah masalah yang di timbulkan oleh nyamuk. Nyamuk merupakan salah satu vector penyakit yang dapat di katakan berbahaya dikarenakan ada jenis nyamuk yang dapat menyebabkan penyakit yang berdampakkan kematian pada manusia.
            Nyamuk dapat berkembang biak di tempat-tempat air yang tergenang. Beda tempat perkembangbiakannya beda pula jenis nyamuk yang ada. Telah banyak penyakit-penyakit yang di temukan pada manusia yang di sebabkan oleh nyamuk, beberapa di antaranya adalah demam berdarah, malaria dan filarial. Bahkan telah mewabah pada saat musim hujan dan sangat menggangu kesehatan manusia sendiri
            Maka dari itu kita perlu untuk mengetahui jenis-jenis nyamuk yang ada di pemukiman warga dengan mengidentifikasi nya dengan melihat ciri-ciri yang ada pada bagian tubuh nyamuk tersebut, penyakit apa saja yang dapat di bawanya terhadap manusia dan bagaimana siklus hidupnya serta cara untuk mengendalikannya.

B.      Tujuan
1.      Untuk mengetahui atau mengidentifikasi jentik dari spesies nyamuk.
2.      Untuk mengetahui spesies dan ciri – ciri dari nyamuk dewasa.
BAB  II
IDENTIFIKASI JENTIK NYAMUK

A.    Landasan Teori
            Bagian-bagian tubuh nyamuk yang di pakai untuk mengenal jenis Nyamuk antara lain
1.      Ukuran dan bagian-bagian tubuh nyamuk
2.      Percabangan urat sayap
3.      Bentuk, jumlah dan warna sisik atau bulu-bulu yang terdapat pada bagian-bagian tubuh nyamuk.
Siklus hidup nyamuk, sejak dari telur hungga menjadi nyamuk dewasa sama dengan serangga yang mengalami tingkatan (stadia) yang berbeda-beda. Dalam siklus hidup nyamuk terdapat empat stadia, yaitu :
Stadium dewasa  →  telur  →  pupa / kepompong
Keterangan :
Stadium dewasa sebagai nyamuk yang hidup dialam bebas, sedangkan ketiga stadium yang hidup dan berkembang didalam air.
Berdasarkan kesenangannya nyamuk suka mencari darah, dikenal 2 golongan nyamuk yaitu :
1)            Nyamuk yang senang mencari darah orang
2)            Nyamuk yang senang mencari darah binatang
Waktu keaktifan mencari darah bagi nyamuk berbeda-beda, di bedakan atas :
a)            Nyamuk yang aktif pada waktu malam hari misalnya : Anopheles dan Cule
b)            Nyamuk yang aktif pada waktu siang hari misalnya : Aedes

Untuk tiap jenis nyamuk tipe breeding places yang berlainan. Nyamuk Culex dapat berkembang disembarang tempat air, Aedes hanya mau di tempat air yang airnya cukup bersih dan tidak kontak langsung dengan tanah. Mansonia senag di kolam, rawa-rawa, danau yang banyak tanaman airnya. Sedangkan Anopheles kesenanganya untuk memilih breeding places sangat bervariasi.
Ciri-ciri Nyamuk
 Nyamuk Aedes :
1)      Hampir seluruh bagian tubuh terdapat warna putih keperak-perakan dapat digunakan sebagai alat (pedoman) identifikasi aedes
2)      Pada kai terdapat garis-garis putih
3)      Fedding Habitat Jam 09.00-11.00 Wib (Pagi) dan 16.00-17.00 Wib (Sore) mangsanya khusus manusia.
4)      Jarak terbang maksimal 200 meter dari sarang
5)      Reesting Places : di dalam rumah terutama di tempat-tempat yang gelap dan lembab, di dinding-dinding rumah, gorden, yang warna-warna gelap.
 Nyamuk Anopheles :
1)   Palpinya hampir sama panjang dengan Probocis
2)   Sayap bernoda
3)   Posisi mengigit istirahat tidak sejajar (membentuk sudut)
2.3 Siklus Hidup Nyamuk
            Nyamuk adalah serangga tergolong dalam order Diptera;
genera termasuk Anopheles,Culex, , Aedes,. Nyamuk mempunyai dua sayap bersisik,          tubuh yang langsing, dan enam kaki panjang; antar spesies berbeda-beda tetapi jarang   sekali melebihi 15 mm. Nyamuk mengalami empat tahap dalam siklus hidup: telur,     larva, pupa, dan dewasa      .
2.3.1 Telur
Telur nyamuk biasanya diletakkan pada daun lembab atau kolam yang kering. Pemilihan tempat ini dilakukan oleh induk nyamuk dengan menggunakan reseptor yang ada di bawah perutnya. Reseptor ini berfungsi sebagai sensor suhu dan kelembaban. setelah tempat ditemukan, induk nyamuk mulai mengerami telurnya. Telur-telur itu panjangnya kurang dari 1 mm, disusun secara bergaris, baik dalam kelompok maupun satu persatu. beberapa spesies nyamuk meletakkan telur-telurnya saling menggabung membentuk suatu rakit yang bisa terdiri dari 300 telur. Telur berada pada masa periode inkubasi (pengeraman). inkubasi sempurna terjadi pada musim dingin. Setelah itu larva mulai keluar dari telurnya semua hampir dalam waktu yang sama. Sampai siklus pertumbuhan ini selesai secara keseluruhan menjadi larva nyamuk
2.3.2 Larva
Larva nyamuk memiliki kepala yang berkembang dengan baik. Larva bernapas melaluispirakel yang terletak pada segmen perut kedelapan, atau melalui siphon, dan karena itu harus sering muncul ke permukaan.. Larva menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk makanganggang , bakteri , dan mikro-organisme lain. Mereka menyelam di bawah permukaan hanya bila terganggu. Larva berenang dengan gerakan tersentak-sentak dari seluruh tubuh. Larva berkembang melalui empat tahap, atau instar , setelah itu mereka bermetamorfosis menjadi kepompong. Pada akhir setiap instar, yang berganti bulu larva, exoskeleton shedding mereka, atau kulit, untuk memungkinkan pertumbuhan lebih lanjut.
2.3.3 Pupa
Setelah berganti kulit, nyamuk berada pada fase transisi. Fase ini dinamakan "fase pupa". Pada fase ini, nyamuk sangat rentan terhadap kebocoran pupa. Agar tetap bertahan, sebelum pupa siap untuk perubahan kulit yang terakhir kalinya, 2 pipa nyamuk muncul ke atas air. pipa itu digunakan untuk alat pernafasan
Kepala dan dada digabung menjadi cephalothorax dengan perut melengkung di bawahnya.. Seperti halnya larva, pupa harus datang ke permukaan sering untuk bernapas, yang mereka lakukan melalui sepasang terompet pernafasan pada cephalothorax tersebut. Selama tahap ini pupa tidak makan. Setelah beberapa hari, pupa naik ke permukaan air, nyamuk dewasa muncul. Nyamuk harus keluar dari air tanpa kontak langsung dengan air, sehingga hanya kakinyalah menyentuh permukaan air.
2.3.4 Dewasa
Nyamuk memiliki mulut yang disesuaikan untuk menembus kulit tumbuhan dan hewan. Sementara laki-laki biasanya nektar dan jus tanaman, wanita perlu mendapatkan gizi dari menghisap darah  sebelum dia dapat menghasilkan telur.
Durasi dari telur menjadi dewasa bervariasi antara spesies dan sangat dipengaruhi oleh suhu lingkungan.. Nyamuk dapat berkembang dari telur menjadi dewasa dalam sebagai hanyalima hari, tetapi biasanya 10-14 hari dalam kondisi tropis. Variasi ukuran tubuh nyamuk dewasa tergantung pada kerapatan populasi larva dan suplai makanan di dalam air. Panjang dewasa bervariasi tetapi jarang lebih besar dari 16 mm (0,6 in) , dan berat sampai dengan 2,5 mg. Semua nyamuk memiliki tubuh langsing dengan tiga bagian: kepala , dada dan perut.
 Nyamuk betina juga akan memakan sumber gula untuk energi tetapi biasanya memerlukan darah untuk pengembangan telur. Setelah menghisap darah, nyamuk betina akan beristirahat selama beberapa hari untuk pematangan telur. Proses ini tergantung pada suhu, namun biasanya berlangsung 2-3 hari dalam kondisi tropis..
Kepala memiliki mata, banyak-tersegmentasi antena . antena ini untuk mendeteksi bau host. Pada nyamuk betina, bagian mulutnya memiliki probosis panjang untuk menembus kulit untuk menghisap darah. Nyamuk betina memerlukan protein untuk pembentukan telur, kebanyakan nyamuk betina perlu menghisap darah untuk mendapatkan protein yang diperlukan. Nyamuk jantan berbeda dengan nyamuk betina, dengan bagian mulut yang tidak sesuai untuk menghisap darah. Nyamuk betina dari satu genus, Toxorhynchites, tidak pernah menghisap darah. Larva nyamuk besar ini merupakan pemangsa jentik-jentik nyamuk yang lain. (http://beny-ardianto.blogspot.com/2011/12/survey-jenis-jenis-nyamuk.html )


B.     Metode Kerja
1.      Alat
a.       Mikroskop
b.      Object glass
c.       Deck glass
d.      Pipet tetes
e.       Tissue
f.       Wadah berisi air
2.      Bahan
Jentik nyamuk
3.      Prosedur kerja
a.       Siapkan alat dan bahan yang dibutuhkan.
b.      Jentik nyamuk pada bak penampung diambil menggunakan pipet.
c.       Tuang air bersama jentik dalam wadah.
d.      Letakkan jentik nyamuk pada object glass menggunakan pipet(dalam posisi telungkup).
e.       Tutup menggunakan deck glass.
f.       Amati morfologi nyamuk tersebut menggunakan mikroskop perbesaran 10x-40x.

C.     Hasil dan Pembahasan
1.      Hasil Pengamatan
1.1     Tempat                        : WC Aula kiri Farmasi
      Jenis container             : Bak air                       = 1
                                            Tempayan                  =  -
      Kondisi air                  : warna                                    = tidak berwarna
                                            Jernih / keruh             =  jernih
                                            Dasar bak                  = agak berlumut.
      Jumlah jentik nyamuk                                     = 1 – 2 jentik.

1.2     Tempat                        : WC blakang dapur Gigi.
Jenis container             : bak air                       = 1
                                      Tempayan                  = -
Kondisi Air                 : warna                                    = tidak berwarna
Jumlah jentik nyamuk                                     = lebih dari 5 jentik nyamuk.

2.      Pembahasan
      Pada praktikum pemeriksaan jentik nyamuk, praktikan menemukan jentik nyamuk Aedes albopictus dimana morfologi tubuhnya terdairi dari pecten, comb scale, sifon. Pada sifon terdapat satu pasang bulu. Pada abdomen dijumpai bulu-bulu kecil. Sifon pada tubuh jentik berfungsi sebagai corong udara. Comb scale pada jentik bisa mempermudah untuk membedakan antara jentik anopeles, aedes dan culex karena hanya jentik nyamuk aedes yang memiliki comb scale.
                  Pada stadium larva (jentik), kelangsungan hidup jentik dipengaruhi oleh suhu, pH, air perindukan, makanan, kepadatan larva, kekeruhan serta adanya predator. Ditempat perindukannya, larva aedes tampak bergerak aktif, dengan memperlihatkan gerakan-gerakan naik ke permukaan air dan turun ke dasar secara berulang-ulang. Pada saat larva mengambil oksigen dari udara, larva menempatkan shiponnya di permukaan air sehingga abdomennya terlihat menggantung pada permukaan air seolah-olah badan larva berada dalam posisi membentuk sudut dengan permukaan air. Larva aedes aegypti dapat hidup di air ber-pH 5,8 – 8,8 dan tahan terhdap air dengan kadar garam 10-59,5 mg/L. Larva aedes aegypti instar IV dalam kurun waktu lebih dari 2 hari berganti kulit dan tumbuh menjadi pupa
3.      Kesimpulan
Dari hasil pengamatan identifikasi jenis nyamuk pada larva / jentik nyamuk yang di ambil dari bak mandi dapur makan jurusan kesehatan Gigi disimpulkan bahwa jenis nyamuk yang di identifikasi adalah Aedes Albopictus. 
BAB III
IDENTIFIKASI NYAMUK DEWASA

A.    Landasan teori
         Nyamuk memiliki sepasang antena berbentuk filiform berbentuk panjang dan langsing serta terdiri atas 15 segmen. Antena dapat digunakan sebagai kunci untuk membedakan kelamin pada nyamuk dewasa. Antena nyamuk jantan lebih lebat daripada nyamuk betina. Bulu lebat pada nyamuk jantan disebut plumose sedangkan pada nyamuk betina yang jumlahnya lebih sedikit disebut pilose (Lestari, 2009). Palpus dapat digunakan sebagai kunci identifikasi karena ukuran dan bentuk palpus masing-masing spesies berbeda.
Sepasang palpus terletak diantara antena dan proboscis. Palpus merupakan organ sensorik yang digunakan untuk mendeteksi karbon dioksida dan mendeteksi tingkat kelembaban. Proboscis merupakan bentuk mulut modifikasi untukmenusuk. Nyamuk betina mempunyai proboscis yang lebih panjang dan tajam, tubuh membungkuk serta memiliki bagian tepi sayap yang bersisik (Lestari, 2009). Menurut Thielman dan Hunter (2007) dalam Lestari (2009), dada terdiri atas protoraks, mesotoraks dan metatoraks. Mesotoraks merupakan bagian dada yang terbesar dan pada bagian atas disebut scutum yang digunakan untuk menyesuaikan saat terbang. Sepasang sayap terletak pada mesotoraks. Nyamuk memiliki sayap yang panjang, transparan dan terdiri atas percabangan-percabangan (vena) dan dilengkapi dengan sisik. Kaki terdapat pada setiap segmen dan dilengkapi dengan sisik. Perut nyamuk tediri atas sepuluh segmen, biasanya yang terlihat segmen pertama hingga segmen ke delapan, segmen-segmen terakhir biasanya termodifikasi menjadi alat reproduksi. Nyamuk betina memiliki 8 segmen yang lengkap, akan tetapi segmen 9 dan 10 biasanya tidak terlihat dan memiliki cerci yang melekat pada segmen ke 10. Beberapa jenis nyamuk, seperti Culex dan Mansonia memiliki ujung perut yang tumpul (Lestari, 2009). Nyamuk jantan dan betina dewasa perbandingan 1:1, nyamuk jantan keluar terlebih dahulu dari kepompong, baru disusul nyarnuk betina, dan nyamuk jantan tersebut akan tetap tinggal di dekat sarang, sampai nyamuk betina keluar dari kepompong, setelah jenis betina keluar, maka nyamuk jantan akan langsung mengawini betina sebelum mencari darah. Selama hidupnya nyamuk betina hanya sekali kawin. Dalam perkembangan telur tergantung kepada beberapa faktor antara lain temperatur dan kelembaban serta species dari nyamuk (Lestari, 2009). Bagian mulut pada nyamuk betina, membentuk probosis panjang untuk menembus kulit mamalia (atau dalam sebagian kasus, burung atau juga reptilia dan amfibi untuk menghisap darah. Nyamuk betina memerlukan protein untuk pembentukan telur dan kebanyakan nyamuk betina perlu menghisap darah untuk mendapatkan protein yang diperlukan. Nyamuk jantan berbeda dengan nyamuk betina, dengan bagian mulut yang tidak sesuai untuk menghisap darah (Lestari, 2009).

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEicWSo0n3kGQx1xc3ihUVoLuk2Lbe_svIfUO6yhw-9yrA5kas5xC11300la7Ms64EoTliQYPbRuaDTSGhi6aVmL9HSP2UArjEiJTnuAZVzSFZZXnEKaLHhFr42Ce_Mbgk_6x9mHWSjFwBR_/s320/nyamu+aedes+aegypti.png Nyamuk Aedes aegypti







            Nyamuk Aedes aegypti dewasa memiliki ukuran sedang dengan tubuh berwarna hitam kecoklatan. Tubuh dan tungkainya ditutupi sisik dengan gari-garis putih keperakan. Di bagian punggung (dorsal) tubuhnya tampak dua garis melengkung vertikal di bagian kiri dan kanan yang menjadi ciri dari spesies ini. Sisik-sisik pada tubuh nyamuk pada umumnya mudah rontok atau terlepas sehingga menyulitkan identifikasi pada nyamuk-nyamuk tua (Nursakinah, 2008). Nyamuk ini hidup di dalam dan di sekitar rumah. Nyamuk betina lebih menyukai darah manusia (anthropophilic) daripada darah binatang. Nyamuk ini memiliki kebiasaan menghisap darah pada jam 08.00-12.00 WIB dan sore hari antara 15.00-17.00 WIB. Kebiasaan menghisap darah ini dilakukan berpindah-pindah dari individu satu ke individu lain (Gandahusada, 1998).
Nyamuk Aedes albopictus
Nyamuk A. albopictus memiliki kesamaan morfologi dengan A.aegypti. Perbedaan keduanya terletak pada garis putih yang terdapat pada bagianscutumnya. Scutum A.albopictus berwarna hitam hanya berisi satu garis putih tebal di bagian dorsalnya (Gandahusada, 1998). Nyamuk betina aktif di luar ruangan yang teduh dan terhindar dari angin. Nyamuk ini aktif menggigit pada siang hari. Puncak aktivitas menggigit ini bervariasi tergantung habitat nyamuk meskipun diketahui pada pagi hari dan petang hari (Lestari, 2009).
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEheeHH29P3f_-a3UNri-ehmHZipLa0XseOAmRb49ajMq9iXdMOapZkPFdEQ7G5auv-StmyRGgTvOt-fFzDg4aW2PBLI1HMZfTVOqp6tZms-YzfUDzCKbQdpgx_70OZkaHrbRqnsOLqatn6J/s320/nyamuk+anopheles.png Nyamuk Anopheles




            Sering orang mengenalnya sebagai salah satu jenis nyamuk yang menyebabkan penyakit malaria. Ciri nyamuk ini adalah hinggap dengan posisi menukik atau membentuk sudut Warnanya bermacam-macam, ada yang hitam, ada pula yang kakinya berbercak-bercak putih. Waktu menggigit biasanya dilakukan malam hari (Gandahusada, 1998).
            Aktivitas menggigit nyamuk Anopheles di dalam rumah terjadi peningkatan pada pukul 23.00 WIB kemudian turun dan meningkat lagi pada pukul 02.00 dan 03.00 dini hari, sedangkan aktivitas menggigit di luar rumah terjadi peningkatan pada pukul 24.00 WIB dan kemudian turun dan meningkat lagi pada pukul 05.00 dini hari.(Rosa, 2009)
Nyamuk Culex quinquefasciatus
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhmZuVUwchb1cB_x8I1ViLGsaLkAaGM7hUMZzquZVrYtD4TOLbnUxsvpPrtUVcKrBtTWHZ3pU1U_d2mh9mIqVZ1q99mRRDkLe4MRdKFLA_n-ZR3m4n0dWnbwVA3EwJU8A3hwHXYcRwoKO_1/s320/nyamuk+culex.png
Nyamuk C. quinquefasciatus memiliki tubuh berwarna kecokelatan,proboscis berwarna gelap tetapi kebanyakan dilengkapi dengan sisik berwarna lebih pucat pada bagian bawah, scutum berwarna kecoklatan dan terdapat warna emas dan keperakan di sekitar sisiknya. Sayap berwarna gelap, kaki belakang memiliki femur yang berwarna lebih pucat, seluruh kaki berwarna gelap kecuali pada bagian persendian. (Lestari, 2009). Nyamuk C. quinquefasciatus bisa hidup baik di dalam maupun luar ruangan (Russel, 1996). Spesies ini sering ditemukan di dalam rumah dan nyamuk betina merupakan nyamukyang aktif pada malam hari. Nyamuk ini lebih menyukai menggigit manusia setelah matahari terbenam (Lestari, 2009).
Nyamuk biasanya meletakkan telur di tempat yang berair, pada tempat yang keberadaannya kering telur akan rusak dan mati. Kebiasaan meletakkan telur dari nyamuk berbeda – beda tergantung dari jenisnya.
1.      Nyamuk Aedes
 Meletakkan telur dan menempel pada yang terapung diatas air atau menempel pada permukaan benda yang merupakan tempat air pada batas permukaan air dan tempatnya
2.       Nyamuk anopeles
Meletakkan telurnya dipermukaan air satu persatu atau bergerombolan tetapi saling lepas, telur anopeles mempunyai alat pengapung.
3.      Nyamuk culex
Meletakkan telur diatas permukaan air secara bergerombolan dan bersatu berbentuk rakit sehingga mampu untuk mengapung, sedangkan jentiknya menggantung di air (Nurmaini, 2001).
B.     Metode Kerja
1.      Alat
a.       Mikroskop
b.      Lup
c.       Kloroform
d.      Jarum pentul
e.       Kain kasa
f.       Tabung reaksi
g.      Kapas.

2.      Bahan
Jenis nyamuk dewasa.
3.      Prosedur kerja
a.       Nyamuk yang telah dewasa dikeluarkan dengan cara memasukkan tabung reaksi dalam wadah penampung ( yang ditutupi kain kasa ).
b.      Teteskan 1 – 2 tetes kloroform pada kapas, letakkan kapas diatas tabung reaksi.
c.       Tunggu beberapa menit, setelah nyamuk tersebut pingsan nyamuk di tusuk dengan pentul dan di identifikasi dengan menggunakan lup.

C.     Hasil
               Hasil pengamatan identifikasi jenis nyamuk yang di ambil dari bak mandi dapur makan jurusan kesehatan Gigi yaitu :
Jenis Nyamuk                : Aedes aegypti ( betina )
Ciri – ciri                        :
1.      Adanya 2 garis putih lengkung di kedua sisi lateral dan 2 buah garis putih sejajar di garis median dari punggungnya yang berwarna dasar hitam.
2.      Tidak mempunyai antena hanya proboscis.

D.    Pembahasan
               Nyamuk Aedes aeypti memiliki ciri – ciri : nyamuk dewasa mempunyai panjang kurang lebih 3 -4 mm. Bagian tubuhnya terdiri dari kepala, dada ( toraks ) dan perut ( abdomen ). Memiliki warna dasar hitam dengan bintik – bintik putih terdapat diseluruh tubuhnya dan di kaki akan terbentuk cincin. Memiliki gambaran atau venasi yang jeas pada sayapnya yang membedakan dengan spesies yang lainnya. Lyre berupa sepasang garis putih lurus di bagian tengah dan bagian tepinya berupa garis lengkung berwarna putih.

E.     Kesimpulan
Dari hasil pengamatan identifikasi jenis nyamuk yang berasal dari bak mandi / penampungan di dapur makan Jurusan Kesehatan Gigi dan Aula kampus dapat disimpulkan jenis nyamuk yang di identifikasi yaitu  spesies Aedes aegypti. 
BAB IV
IDENTIFIKASI JENTIK DAN NYAMUK DEWASA


A.    Landasan teori

B.     Tujuan
1.      Untuk mengidentifikasi jentik dan nyamuk dewasa yang hidup di sekitar genangan air sawah di Oepura.
2.      Identifikasi ciri-ciri jentik dan nyamuk dewasa yang hidup di sekitar air sawah.
C.     Metode Kerja
1.      Alat dan Bahan
a.       Mikroskop
b.      Objek glass
c.       Pipet tetes
d.      Kasa/ kapas
e.       Tabung reaksi
f.       Kloroform
g.      Jentik nyamuk yang diambil dari sawah dan nyamuk dewasa di sekitar sawah.
2.      Prosedur Kerja
a.       Siapkan alat dan bahan.
b.      Ambil spesies nyamuk pada wadah yang sebelumnya yang telah di ambil pada tempat genangan air.
c.       Letakkan nyamuk pada objeck glass.
d.      Identifikasi jenis spesies nyamuk menggunakan mikroskop.

D.    Hasil Pengamatan
Lokasi : Genangan air, sawah di Oepura.
Waktu : Pagi hari, pukul 07.30 WITA.
 Lokasi pengambilan sampel digambarkan pada lokasi pengambilan spesies diambil di got / selokan di sekitar sawah.pada saat pengambilan spesies diambil di got / selokan di sekitar sawah. Pada saat pengambilan air dalam posisi tergenang pada selokan dengan keadaan air tidak mengalir pada selokan.

Hasil    : spesies nyamuk Aedes aegypti.
Hasil pengamatan tampak terlihatnya spesies nyamuk Aedes aegypti yang ditemukan atau didapat dari air got di daerah persawahan.
E.     Pembahasan
Nyamuk menyukai tempat perkembangbiakan yang berwarna gelap, terlindung dari sinar matahari, permukaan terbuka lebar, terletak di dalam maupun di luar rumah seperti tempat penampungan air : bak mandi, gentong, ember dll. Sedangkan di luar rumah : kaleng bekas, botol bekas, pot bekas dll.
Nyamuk Aedes aegypti mempunyai ciri khas memiliki kaki belang dari adanya 2 garis lengkung yang berwarna putih perak di kedua sisi lateral dan dua buah garis median dari punggungnya yang berwarna dasar hitam.
F.      Kesimpulan
     Dari hasil pengamatan disimpulkan bahwa spesies nyamuk yang ditemukan yaitu Aedes aegypti.


Larva Aedes Albopictus                Abdomen pada larva Aedes Aegepty