Halaman

9 Juni 2012


Kompetensi : Mahasiswa dapat membuat media pertumbuhan Nutrient Agar dan Potato Dextrose Agar
Media pertumbuhan :
a. Pengertian dan fungsi
b. Bahan-bahan media pertumbuhan
b.1 Bahan dasar
b.2 Nutrisi atau zat makanan
b.3 Bahan tambahan
b.4 Bahan yang sering digunakan dalam pembuatan media
c. Macam-macam media pertumbuhan
c.1 Berdasarkan sifat fisik
c.2 Berdasarkan komposisi
c.3 Berdasarkan tujuan
d. Pembuatan Nutrient Agar dan Nutrient Broth
e. Pembuatan Potato Dextrose Agar
Pengertian dan Fungsi
Media pertumbuhan mikroorganisme adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran zat-zat makanan (nutrisi) yang diperlukan mikroorganisme untuk pertumbuhannya. Mikroorganisme memanfaatkan nutrisi media berupa molekul-molekul kecil yang dirakit untuk menyusun komponen sel. Dengan media pertumbuhan dapat dilakukan isolat mikroorganisme menjadi kultur murni dan juga memanipulasi komposisi media pertumbuhannya.
Bahan-bahan media pertumbuhan
1. Bahan dasar
Ø air (H2O) sebagai pelarut
Ø agar (dari rumput laut) yang berfungsi untuk pemadat media. Agar sulit didegradasi oleh mikroorganisme pada umumnya dan mencair pada suhu 45 oC.
Ø gelatin juga memiliki fungsi yang sama seperti agar. Gelatin adalah polimer asam amino yang diproduksi dari kolagen. Kekurangannnya adalah lebih banyak jenis mikroba yang mampu menguraikannya dibanding agar.
Ø Silica gel, yaitu bahan yang mengandung natrium silikat. Fungsinya juga sebagai pemadat media. Silica gel khusus digunakan untuk memadatkan media bagi mikroorganisme autotrof obligat.
2. Nutrisi atau zat makanan
Media harus mengandung unsur-unsur yang diperlukan untuk metabolisme sel yaitu berupa unsur makro seperti C, H, O, N, P; unsur mikro seperti Fe, Mg dan unsur pelikan/trace element.
Ø Sumber karbon dan energi yang dapat diperoleh berupa senyawa organik atau anorganik esuai dengan sifat mikrobanya. Jasad heterotrof memerlukan sumber karbon organik antara lain dari karbohidrat, lemak, protein dan asam organik.
Ø Sumber nitrogen mencakup asam amino, protein atau senyawa bernitrogen lain. Sejumlah mikroba dapat menggunakan sumber N anorganik seperti urea.
Ø Vitamin-vitamin.
3. Bahan tambahan
Bahan-bahan tambahan yaitu bahan yang ditambahkan ke medium dengan tujuan tertentu, misalnya phenol red (indikator asam basa) ditambahkan untuk indikator perubahan pH akibat produksi asam organik hasil metabolisme. Antibiotik ditambahkan untuk menghambat pertumbuhan mikroba non-target/kontaminan.
4. Bahan yang sering digunakan dalam pembuatan media
Ø Agar, agar dapat diperoleh dalam bentuk batangan, granula atau bubuk dan terbuat dari beberapa jenis rumput laut. Kegunaannya adalah sebagai pemadat (gelling) yang pertama kali digunakan oleh Fraw & Walther Hesse untuk membuat media. Jika dicampur dengan air dingin, agar tidak akan larut. Untuk melarutkannya harus diasuk dan dipanasi, pencairan dan pemadatan berkali-kali atau sterilisasi yang terlalu lama dapat menurunkan kekuatan agar, terutama pada pH yang asam
Ø Peptone, peptone adalah produk hidrolisis protein hewani atau nabati seperti otot, liver, darah, susu, casein, lactalbumin, gelatin dan kedelai. Komposisinya tergantung pada bahan asalnya dan bagaimana cara memperolehnya.
Ø Meat extract. Meat extract mengandung basa organik terbuat dari otak, limpa, plasenta dan daging sapi.
Ø Yeast extract. Yeast extract terbuat dari ragi pengembang roti atau pembuat alcohol. Yeast extract mengandung asam amino yang lengkap & vitamin (B complex).
Ø Karbohidrat. Karbohidrat ditambahkan untuk memperkaya pembentukan asam amino dan gas dari karbohidrat. Jenis karbohidrat yang umumnya digunkan dalam amilum, glukosa, fruktosa, galaktosa, sukrosa, manitol, dll. Konsentrasi yang ditambahkan untuk analisis fermentasi adalah 0,5-1%.
Macam-Macam Media Pertumbuhan
1. Medium berdasarkan sifat fisik
Ø Medium padat yaitu media yang mengandung agar 15% sehingga setelah dingin media menjadi padat..
Ø Medium setengah padat yaitu media yang mengandung agar 0,3-0,4% sehingga menjadi sedikit kenyal, tidak padat, tidak begitu cair. Media semi solid dibuat dengan tujuan supaya pertumbuhan mikroba dapat menyebar ke seluruh media tetapi tidak mengalami percampuran sempurna jika tergoyang. Misalnya bakteri yang tumbuh pada media NfB (Nitrogen free Bromthymol Blue) semisolid akan membentuk cincin hijau kebiruan di bawah permukaan media, jika media ini cair maka cincin ini dapat dengan mudah hancur. Semisolid juga bertujuan untuk mencegah/menekan difusi oksigen, misalnya pada media Nitrate Broth, kondisi anaerob atau sedikit oksigen meningkatkan metabolisme nitrat tetapi bakteri ini juga diharuskan tumbuh merata diseluruh media.
Ø Medium cair yaitu media yang tidak mengandung agar, contohnya adalah NB (Nutrient Broth), LB (Lactose Broth).
2. Medium berdasarkan komposisi
Ø Medium sintesis yaitu media yang komposisi zat kimianya diketahui jenis dan takarannya secara pasti, misalnya Glucose Agar, Mac Conkey Agar.
Ø Medium semi sintesis yaitu media yang sebagian komposisinya diketahui secara pasti, misanya PDA (Potato Dextrose Agar) yang mengandung agar, dekstrosa dan ekstrak kentang. Untuk bahan ekstrak kentang, kita tidak dapat mengetahui secara detail tentang komposisi senyawa penyusunnya.
Ø Medium non sintesis yaitu media yang dibuat dengan komposisi yang tidak dapat diketahui secara pasti dan biasanya langsung diekstrak dari bahan dasarnya, misalnya Tomato Juice Agar, Brain Heart Infusion Agar, Pancreatic Extract.
3. Medium berdasarkan tujuan
Ø Media untuk isolasi
Media ini mengandung semua senyawa esensial untuk pertumbuhan mikroba, misalnya Nutrient Broth, Blood Agar.
Ø Media selektif/penghambat
Media yang selain mengandung nutrisi juga ditambah suatu zat tertentu sehingga media tersebut dapat menekan pertumbuhan mikroba lain dan merangsang pertumbuhan mikroba yang diinginkan. Contohnya adalah Luria Bertani medium yang ditambah Amphisilin untuk merangsang E.coli resisten antibotik dan menghambat kontaminan yang peka, Ampiciline. Salt broth yang ditambah NaCl 4% untuk membunuh Streptococcus agalactiae yang toleran terhadap garam.
Ø Media diperkaya (enrichment)
Media diperkaya adalah media yang mengandung komponen dasar untuk pertumbuhan mikroba dan ditambah komponen kompleks seperti darah, serum, kuning telur. Media diperkaya juga bersifat selektif untuk mikroba tertentu. Bakteri yang ditumbuhkan dalam media ini tidak hanya membutuhkan nutrisi sederhana untuk berkembang biak, tetapi membutuhkan komponen kompleks, misalnya Blood Tellurite Agar, Bile Agar, Serum Agar, dll.
Ø Media untuk peremajaan kultur
Media umum atau spesifik yang digunakan untuk peremajaan kultur
Ø Media untuk menentukan kebutuhan nutrisi spesifik.
Media ini digunakan unutk mendiagnosis atau menganalisis metabolisme suatu mikroba. Contohnya adalah Koser’s Citrate medium, yang digunakan untuk menguji kemampuan menggunakan asam sitrat sebagai sumber karbon.
Ø Media untuk karakterisasi bakteri
Media yang digunakan untuk mengetahui kemempuan spesifik suatu mikroba. Kadang-kadang indikator ditambahkan untuk menunjukkan adanya perubahan kimia. Contohnya adalah Nitrate Broth, Lactose Broth, Arginine Agar.
Ø Media diferensial
Media ini bertujuan untuk mengidentifikasi mikroba dari campurannya berdasar karakter spesifik yang ditunjukkan pada media diferensial, misalnya TSIA (Triple Sugar Iron Agar) yang mampu memilih Enterobacteria berdasarkan bentuk, warna, ukuran koloni dan perubahan warna media di sekeliling koloni..
Pembuatan Nutrient Agar dan Nutrient Broth
Ø Pembuatan Nutrient Agar
· Timbang komponen medium dengan menggunakan timbangan analitis untuk volume yang diinginkan sesuai dengan komposisi berikut:
§ Beef extract 3 g
§ Peptone 5 g
§ Agar 15 g
§ Akuades s.d 1000 ml
· Akuades sebanyak 100 ml dibagi menjadi dua satu bagian untuk melarutkan Beef extract dan peptone dan sebagian lagi untuk melarutkan agar. Sebaiknya air untuk melarutkan agar lebih banyak
· Larutkan agar pada sebagian air tersebut dengan mengaduk secara konstan dan diberi panas. Dapat menggunakan kompor gas atau hot plate stirrer (jangan sampai overheat, karena akan terbentuk busa dan memuai sehingga tumpah).
· Sementara itu sebagian akuades digunakan untuk melarutkan peptone dan beef extract, cukup dengan pengadukan.
· Setelah keduanya larut, larutan dituangkan ke larutan agar dan diaduk sampai homogen. Kemudian pH media diukur dengan mencelupkan kertas pH indikator. Jika pH tidak netral maka dapat ditambahkan HCl/NaOH.
· Setelah itu media dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer dan disterilisasi dengan autoklaf.
· Tuang media steril ke cawan petri steril secara aseptis. Jika diinginkan media tegak atau miring pada point ke 5, media langsung dituang ke tabung kemudian disterilisasi.
Ø Pembuatan Nutrient Broth
Komposisi untuk media NB sama dengan NA tetapi tidak memakai agar sebagai pemadat. Proses pembuatannyapun lebih sederhana, tinggal melarutkan peptone dan beef extract kemudian ditampung dalam labu Erlenmeyer atau tabung reaksi dan siap disterilisasi. Proses pembuatan ini tidak memerlukan panas, peptone dan beef extract akan mudah larut sempurna pada air suhu kamar jika diaduk
Pembuatan Potato Dextrose Agar (PDA)
· Timbang komponen media dengan menggunakan timbangan analitis untuk volume yang diinginkan sesuai dengan komposisi berikut:
§ Potato/kentang 3 g
§ Peptone 5 g
§ Agar 15 g
§ Akuades s.d 1000 ml
§ (sebelum ditimbang, sebaiknya kentang dikupas dan diiris kecil-kecil)
· Rebus kentang dalam sebagian akuades tadi selama 1-3 jam sampai lunak, kemudian diambil ekstraknya dengan menyaring dan memerasnya menggunakan kertas saring lalu ditampung di Beaker glass baru.
· Agar dilarutkan dengan Hot Plate Stirrer dalam 50 ml akuades lalu setelah larut dapat ditambahkan dekstrosa dan dihomogenkan lagi.
· Setelah semua larut, ekstrak kentang dan agar-dekstrosa dicampur dan dihomogenkan. Atur pH media menjadi 5-6 dengan meneteskan HCl/NaOH.
· Media dituang ke dalam Erlenmeyer atau ke tabung reaksi kemudian siap untuk disterilisasi.
http://img2.blogblog.com/img/icon18_edit_allbkg.gif
5 comments:
http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif
Transform Center mengatakan...
very awesome,.. thnx bgt buat artikelnya y...

ngbantu bnget nih buat skripsi....
MissPure's mengatakan...
makasih banyak yahh...ngebantu banget buat laporan sy.

1 Mei 2012

PERAN DAN FUNGSI AHLI MADYA ANALISIS KESEHATAN


PERAN DAN FUNGSI AHLI MADYA ANALISIS KESEHATAN
Sesuai dengan tugas yang diuraikan di atas, ditetapkan peran, fungsi dan kompetensi lulusan sebagai berikut :
Peran ahli Madya Analis Kesehatan :
1.
Pelaksanaan teknis dalam pelayanan laboratorium kesehatan.
2.
Pengelola komponen laboratorium kesehatan.
3.
Pembimbing/penyuluh.
4.
Pembantu peneliti.

Fungsi dan kompetensi
Peran I
Pelaksanaan Teknis dalam pelayanan laboratorium kesehatan.

Fungsi   
Melaksanakan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dalam bidang analis kesehatan
Kompetensi :
1
Mengetahui dasar-dasar genetic anatomi dan fisiologi tubuh manusia.
2.
Melaksanakan analisis pengujian reagensia untuk menetapkan kualitas pemeriksaan secara internal agar hasil analisis dapat dipercaya.
3.
Membuat larutan pereaksi yang bersifat standar.
4.
Melakukan analisis senyawa organik terutama gugus fungsional
5.
Melakukan analisis secara konvensional maupun menggunakan alat-alat elektronik (instrumental analysis).
6.
Mengetahui struktur, peran dan fungsi hormon, vitamin, protein dan lain-lain serta pembentukan dan penyimpanan energi metabolisme.
7.
Mengenal berbagai sifat secara kimia maupun fisika dari senyawa organik.
8.
Mengetahui berbagai instrument yang ada di laboratorium kesehatan dan mengetahui cara kerja dan cara menggunkannya secara efektif dan efisien.
10.
Melakukan pengambilan, pengumpulan dan penyimpanan bahan-bahan pemeriksaan dan reagenisasinya untuk berbagai analisis di laboratorium.
11.
Melakukan pemeriksaan secara analisis kimia klinik, hematologik, mikrobiologik, parasitologik bahan-bahan urin, feses, darah, serum, plasma, cairan lambung dan sebagainya dalam menjunjung diagnosis penyakit berdasarkan reaksi-reaksi kimia.
12.
Melaksanakan pemeriksaan jasad renik dalam laboratorium kesehatan melalui pemeriksaan makroskopis, mikrokopis, isolasi dan melalui tes serologik / imonologik.
13.
Melaksanakan analisis kualitatif dan kuantitatif bahan farmasi, pestisida dan makanan.
14.
Melakukan pemantapan mutu laboratorium secara internal dan eksternal antara lain meliputi bidang kimia klinik hematology, patologi, imunologi dan mikrobiologi.

Peran 2
Pengelola komponen laboratorium kesehatan.

Fungsi   
1.
Membantu pimpinan laboratorium dalam perencanaan laboratorium kesehatan.
2.
Mengawasi pelaksanaan kegiatan laboratorium dalam komponen yang menjadi wewenangnya.

Kompetensi :
1.
Merencanakan kegiatan laboratorium.
2.
Mengatur pelaksanaan pemeriksaan laboratorium.
3.
Mengawasi dan membimbing pelaksana pemeriksaan laboratorium.
4.
Mengevaluasi hasil pemeriksaan laboratorium.
5.
Membuat laporan mengenai kegiatan laboratorium.

Peran 3
Pembimbing / penyuluh.
Fungsi   
1.
Memberikan bimbingan dan pengawasan kepada tenaga kesehatan laboratorium yang terkait dengan teknik pemeriksaan laboratorium kesehatan.
2.
Memberikan penerangan/penyuluhan kepada masyarakat tentang manfaat pemeriksaan laboratorium.

Kompetensi :
1.
Membuat rencana penyuluhan kesehatan yang berkaitan dengan pemeriksaan laboratorium.
2.
Melaksanakan penyuluhan kesehatan yang berkaitan dengan pemeriksaan laboratorium.
3.
Mengevaluasi hasil penyuluhan kesehatan dalam bidang laboratorium



Peran 4
Pembantu peneliti.
Fungsi   
Membantu pelaksanaan penelitian dalam bidang yang berkaitan dengan pemeriksaan laboratorium.

Kompetensi :
1.
Mengidentifikasi masalah yang memerlukan penelitian.
2.
Berperan sebagai peneliti dan anggota Tim dalam pelaksanaan penelitian dalam bidang pemeriksaan laboratorium.

FISIOLOGI SEL DARAH MANUSIA


Diposkan oleh Cimobi Crew

1. Leukosit 
Leukosit adalah sel darah  berinti. Di dalam darah manusia, jumlah normal leukosit rata-rata 5000-9000 sel/mm3, bila jumlahnya lebih dari 12000, keadaan ini disebut leukositosis, bila kurang dari 5000 disebut leukopenia. Dilihat dalam mikroskop cahaya maka sel darah putih mempunyai granula spesifik (granulosit), yang dalam keadaan hidup berupa tetesan setengah cair, dalam sitoplasmanya dan mempunyai bentuk inti yang bervariasi, Yang tidak mempunyai granula, sitoplasmanya homogen dengan inti
bentuk bulat atau bentuk ginjal. Terdapat dua jenis leukosit agranuler : linfosit sel kecil, sitoplasma sedikit; monosit sel agak besar mengandung sitoplasma lebih banyak. Terdapat tiga jenis leukosir granuler: Neutrofil, Basofil, dan Asidofil (eosinofil) yang dapat dibedakan dengan afinitas granula terhadap zat warna netral basa dan asam. Granula dianggap spesifik bila ia secara tetap terdapat dalam jenis leukosit tertentu dan pada sebagian besar precursor (pra zatnya). Meski masing-masing jenis sel terdapat dalam sirkulasi darah, leukosit tidak secara acak terlihat dalam eksudat, tetapi tampak sebagai akibat sinyal-sinyal kemotaktik khusus yang timbul dalam berkembangnya proses peradangan. (Effendi, 2003; Price dan Wilson, 2006)
            Leukosit mempunyai peranan dalam pertahanan seluler dan humoral organisme terhadap zat-zat asingan. Ketika viskositas darah meningkat dan aliran lambat, leukosit mengalami marginasi, yakni bergerak ke  arah perifer sepanjang pembuluh darah. Kemudian melekat pada endotel dan  melakukan gerakan amuboid. Melalui proses diapedesis, yakni kemampuan leukosit untuk menyesuaikan dgn lubang kecil lekosit, dapat meninggalkan kapiler dengan menerobos antara sel-sel endotel dan menembus kedalam jaringan penyambung. Pergerakan leukosit di daerah intertisial pada jaringan meradang setelah leukosit beremigrasi, atau disebut kemotaktik terarah oleh sinyal kimia. (Effendi, 2003; Price dan Wilson, 2006).
            Jumlah leukosit per mikroliter darah, pada orang dewasa normal adalah 4000-11000, waktu lahir 15000-25000, dan menjelang hari ke empat turun sampai 12000, pada usia 4 tahun sesuai jumlah normal. Variasi kuantitatif dalam sel-sel darah putih tergantung pada usia. waktu lahir, 4 tahun dan pada usia 14 -15 tahun persentase khas dewasa tercapai. (Effendi, 2003).
Neutrofil
            Neutrofil berkembang dalam sumsum tulang dikeluarkan dalam sirkulasi, selsel ini merupakan 60 -70 % dari leukosit yang beredar. Garis tengah bervariasi 10-20um, satu inti dan 2-5 lobus. Granula pada neutrofil ada dua :
- Azurofilik yang mengandung enzym lisozom dan peroksidase.
- Granul spesifik lebih kecil mengandung fosfatase alkali dan zat-zat bakterisidal
(protein Kationik) yang dinamakan fagositin.
            Neutrofil merupakan garis depan pertahanan seluler terhadap invasi jasad renik, menfagosit partikel kecil dengan aktif. Adanya asam amino D oksidase dalam granula azurofilik penting dalam pengenceran dinding sel bakteri yang mengandung asam amino D. Selama proses fagositosis dibentuk peroksidase. Mielo peroksidase yang terdapat dalam neutrofil berikatan dengan peroksida dan halida bekerja pada molekultirosin dinding sel bakteri dan menghancurkannya. Dibawah pengaruh zat toksik tertentu seperti streptolisin toksin streptokokus membran granula-granula neutrofil pecah, mengakibatkan proses pembengkakan diikuti oleh aglutulasiorganel- organel dan destruksi neutrofil.
Neotrofil mempunyai metabolisme yang sangat aktif dan mampu melakukan glikolisis baik secara arrob maupun anaerob. Kemampuan nautropil untuk hidup dalam lingkungan anaerob sangat menguntungkan, karena mereka dapat membunuh bakteri dan membantu membersihkan debris pada jaringan nekrotik. Fagositosis oleh neutrfil merangsang aktivitas heksosa monofosfat shunt, meningkatkan glicogenolisis. (Effendi, 2003).
            Prekursor paling dini adalah mieloblas yang dengan pembelahan-pembelahan sel nantinya menjadi promielosit, mielosit, metamielosit. Maturasi netrofil diklasifikasikan  di antara metamielosit.(Hoffbrand dan Pettit, 1996).
            EOSINOFIL. Jumlah eosinofil hanya 1-4 % leukosit darah, bergaris tengah 9um. Inti biasanya berlobus dua, Retikulum endoplasma mitokonria dan apparatus Golgi kurang berkembang. Mempunyai granula ovoid yang dengan eosin asidofkik, granula adalah lisosom yang mengandung fosfatae asam, katepsin, ribonuklase, tapi tidak mengandung lisosim. Eosinofil mempunyai pergerakan amuboid, dan mampu melakukan fagositosis, lebih lambat tapi lebih selektif dibanding neutrifil. Eosinofil memfagositosis komplek antigen dan anti bodi, ini merupakan fungsi eosinofil untuk melakukan fagositosis selektif terhadap komplek antigen dan antibody. Eosinofil mengandung profibrinolisin, diduga berperan mempertahankan darah dari pembekuan, khususnya bila keadaan cairnya diubah oleh proses-proses Patologi. Kortikosteroid akan menimbulkan penurunan jumlah eosinofil darah dengan cepat. (Effendi, 2003).
            BASOFIL. Basofil jumlahnya 0-% dari leukosit darah, ukuran garis tengah 12um, inti satu, besar bentuk pilihan ireguler, umumnya bentuk huruf S, sitoplasma basofil terisi granul yang lebih besar, dan seringkali menutupi inti, bentuknya ireguler berwarna metakromatik, dengan campuran jenis Romanvaki tampak lembayung. Granula basofil metakromatik dan mensekresi histamin dan heparin, dan keadaan tertentu, basofil merupakan sel utama pada tempat peradangan ini dinamakan hypersesitivitas kulit basofil. Hal ini menunjukkan basofil mempunyai hubungan kekebalan. (Effendi, 2003).
            LIMFOSIT. Limfosit merupakan sel yang sferis, garis tengah 6-8um, 20-30% leukosit darah.Normal, inti relatifbesar, bulat sedikit cekungan pada satu sisi, kromatin inti padat, anak inti baru terlihat dengan electron mikroskop. Sitoplasma sedikit sekali, sedikit basofilik, mengandung granula-granula azurofilik. Klasifikasi lainnya dari limfosit terlihat dengan ditemuinya tanda-tanda molekuler khusus pada permukaan membran sel-sel tersebut. Beberapa diantaranya membawa reseptos seperti imunoglobulin yang mengikat antigen spesifi. Lirnfosit dalam sirkulasi darah normal dapat berukuran 10-12um ukuran yang lebih besar disebabkan sitoplasmanya yang lebih banyak. Kadang-kadang disebut dengan limfosit sedang. Sel limfosit besar yang berada dalam kelenjar getah bening dan akan tampak dalam darah dalam keadaan Patologis, pada sel limfosit besar ini inti vasikuler dengan anak inti yang jelas. Limfosit-limfosit dapat digolongkan berdasarkan asal, struktur halus, surface markers yang berkaitan dengan sifat imunologisnya, siklus hidup dan fungsi. (Effendi, 2003).
            MONOSIT. Merupakan sel leukosit yang besar 3-8% dari jumlah leukosit normal, diameter 9-10 um tapi pada sediaan darah kering diameter mencapai 20um, atau lebih. Inti biasanya eksentris, adanya lekukan berbentuk tapal kuda. Kromatin kurang padat, susunan lebih fibriler, ini merupakan sifat tetap momosit Sitoplasma relatif banyak dengan pulasan wrigh berupa bim abu-abu pada sajian kering. Granula azurofil, merupakan lisosom primer, lebih banyak tapi lebih kecil. Ditemui retikulim endoplasma sedikit. Juga ribosom, pliribosom sedikit, banyak mitokondria. Aparatus Golgi berkembang baik, ditemukan mikrofilamen dan mikrotubulus pada daerah identasi inti.
            Monosit ditemui dalam darah, jaingan penyambung, dan rongga-rongga tubuh. Monosit tergolong fagositik mononuclear (system retikuloendotel) dan mempunyai tempat-tempat reseptor pada permukaan membrannya. Untuk imunoglobulin dan komplemen. Monosit beredar melalui aliran darah, menembus dinding kapiler masuk kedalam jaringan penyambung. DaIam darah beberapa hari. Dalam jaringan bereaksi dengan limfosit dan memegang peranan penting dalam pengenalan dan interaksi sel-sel immunocmpetent dengan antigen. (Effendi, 2003).
           




2.   TROMBOSIT
            Trombosit dalam sirkulasi adalah kepingan-kepingan dari sitoplasma megakariosit dan dihasilkan dalam sumsum tulang. Umurnya dalam sirkulasi sekitar 10hari. Trombosit yang baru dibentuk berukuran lebih besar dan memiliki kemampuan hemostatis  lebih baik dari trombosit tua dalam sirkulasi.
            Struktur trombosit. Membran trombosit kaya fosfolipid, diantaranya faktor trombosit 3 yang dapat meningkatkan pembekuan saat hemostatis. Trombosit mengandung serabut protein yang dapat mengerut, yakni aktin dan miosin, pipa halus sejenis kerangka yang memungkinkan trombosit berubah bentuk, granula berisi ADP dan ATP, ion Ca dan serotonin, serta granula alfa yang mengandung enzim lisozim. Faktor trombosit 4 dan beta-tromboglobulin adalah zat yang hanya terdapat dalam trombosit utuh. Adanya trombosit ini dalam plasma menunjukkan adanya proses penghancuran trombosit berlebih.
            Fungsi trombosit. Fungsi utama adalah pembentukan sumbat mekanis selama respon hemostatik normal terhadap luka vaskular. Selain itu punya protein stabilisasi fibrin, penggandaan sel endotel setelah rusak, penyimpanan ion kalsium. ( Tinjauan Klinis Hasil Pemriksaan Laboratorium, edisi 9, Kapsel Hematologi).
            Trombopoesis. Trombosit berasal dari sel induk pluripoten yang tidak terikat (noncommitted pluripotent stem cell), yang jika ada permintaan dan dalam keadaan adanya faktor perangsang trombosit, interleukin, dan TPO (faktor pertumbuhan dan perkembangan megakariosit), berdiferensiasi menjadi sekelompok sel induk yang terikat (committed stem cell pool) untuk membentuk megakarioblas dan mengalami maturasi menjadi megakariosit raksasa. Megakariosit mengalami endomitosis, terjadi pembelahan inti di dalam sel tetapi sel itu sendiri tidak membelah. Sitoplasma sel akhirnya memisahkan diri menjadi trombosit-trombosit. (Patofisiologi, Edisi 6, Price and Wilson)
            Hemostasis, merupakan peristiwa penghentian perdarahan akibat putusnya atau robeknya sekaligus mempertahankan darah dalam keadaan cair di dalam kompartemen vaskular. Hemostasis normal terdiri dari Vaso konstriksi, Agregasi trombosit, Pembekuan, Pertumbuhan jaringan ikat. Pada Vasokonstriksi inisial pada pembuluh darah yang cedera sehingga aliran darah di sebelah distal cedrea terganggu. Kemudian terjadi adhesi trombosit, yakni trombosit melekat pada kolagen terpapar yang membutuhkan faktor Von Willebrand dan glikoprotein membran trombosit tertentu. Selanjutnya pembentuksn sumbat trombosit yang melibatkan 3 fungsi trombosit :
  1. Pelepasan ADP, ATP, Ca, dan serotonin dari granula dalam trombosit menyebabkan agregasi sekunder trombosit pada bagian pembuluh darah  yang rusak.
  2. Pembentukan tromboksan A2 trombosit, suatu agregator trombosit yang kuat dan vasokonstriktor. Sebaliknya prostaglandin intermediate yang dibentuk oleh trombosit dimetabolisir dalam dinding pembuluh darah menjadi prostasiklin (PGI2), suatu antiagregator dan vasodilatator.
  3. Peran serta trombosit dalam pembekuan darah. Beberapa reaksi bertingkat koagulasi memerlukan lipid trombosit dan terjadi pada membran trombosit. Reaksi mencakup Faktor XI, VIII, X, dan V. Trombosit juga berperan dalam pembekuan dengan pelepasan Faktor pembekuan I, V, VIII, dan XIII yang tersimpan. Trombin yang dihasilkan merupakan suatu agregator trombosit yang kuat.
            Setelah itu, terjadi pembentukan jaring fibrin yang terikat dengan agregat tormbosit sehingga terbentuk sumbat trombosit atau trombus yang lebih stabil. Kemudian pelarutan parsial atau total agregat hemostasis atau trombus yang lebih stabil. (Biokim Harper, 2003; Kapita Selekta Hematologi, Edisi3, 2001)



DAFTAR PUSTAKA

Murray, Robert K et.al., 2003. BIOKIMIA HARPER EDISI 25. Jakarta : EGC
Price, Sylvia A. and Lorraine M.  Wilson. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Volume 1 Edisi 6. Jakarta : EGC
Newman, W. A., 2006. Kamus Kedokteran Dorland Edisi 29. Jakarta : EGC
Hoffbrand, A.V., Pettit, J.E., Moss, P.A.H., 2005. Kapita Selekta Hematologi ed. 2. Jakarta : EGC. pp : 102-126
Effendi, Zukesti. 2003. PERANAN LEUKOSIT SEBAGAI ANTI INFLAMASI ALERGIK DALAM TUBUH. library.usu.ac.id/download/fk/histologi-zukesti2.pd

26 April 2012


Fisiology Pembentukan Urine.

Glomerulus. Pembentukan urine mulai di glomerulus tempat dimana darah disaring. Aliran darah ke glomerulus pada kedua ginjal kurang lebih 1200 cc/menit. Membran semipermiabel disekeliling permukaan paling luar dari glomerulus yang mengijinkan terjadinya filtrasi (gbr. 5). Tekanan darah dalam kapiler glomerular menyebabkan darah tersaring kedalam kapsul Bowman, dimana darah mulai turun ke bawah ke tubulus. Filtrasi menjadi lebih cepat dalam glomerulus daripada di jaringan kapiler biasa karena sifat menyerapnya membran glomerulus (gbr.4). Ultrafiltrasi sama seperti dalam komposisi darah kecuali bila sel-sel darah kurang, platelet, dan protein plasma banyak. Permiabilitas kapiler meningkat pada banyak penyakit ginjal, yang mengijinkan plasma protein lolos ke dalam urine.

Jumlah darah yang tersaring oleh glomerulus pada waktu tertentu disebut sebagai glomerular filtration rate (GFR). GFR normal kurang lebih 125 cc/menit. Tetapi rata-rata hanya 1 cc/menit yang tertinggal sebagai urine.

Gbr.4. Filtrasi di nephron

Fungsi Tubular. Karena fungsi membran glomerular adalah menyaring senyawa-senyawa terutama oleh ukuran, ketentuan dibuat untuk menyerap kembali material-material penting dan mengekskresi yang tidak penting (tabel 1). Tubulus dan duktus kolektivus melaksanakan fungsi ini dengan cara reabsorbsi dan sekresi (gbr. 6). Reabsorbsi artinya menyerapnya substansi dari lumen tubulus melalui sel tubulus dan ke dalam kapiler-kapiler. Proses ini melibatkan transport aktif dan pasif. Sekresi tubulus artinya menyerapnya senyawa-senyawa dari kapiler-kapiler melalui sel tubulus ke dalam lumen tubulus.

Pada tubulus convoluted proksimal kurang lebih 80% elektrolit diserap kembali. Normalnya, semua glukose, asam amino, dan protein diserap kembali. Ion Hydrogen (H+) dan creatinin  disekresi ke dalam filtrat.

Pada Loop of Henle, penyerapan kembali atau reabsorbsi berlanjut. Pada ascending limb, ion Cl- (Chlorida) secara aktif di rearbsorbsi, yang diikuti secara pasif oleh ion sodium (Na +). Kurang lebih 25% dari sodium yang terfiltrasi diserap kembali disini. Loop of Henle juga sangat penting dalam merubah air dan dengan demikian memekatkan filtrat.

Dua fungsi penting dari tubulus convoluted distal adalah pengaturan akhir dari keseimbangan air dan asam basa. Pada tubulus distal peran hormon tertentu menjadi penting. Hormon antidiuretic (ADH), dilepaskan oleh pituitary posterior, diperlukan untuk rearbsorbsi air. Dengan adanya ADH, tubulus menjadi lebih permiabel terhadap air, yang membolehkan air kembali ke sirkulasi. Pada keadaan tidak ada ADH dalam tubulus secara praktis tidak permiabel terhadap air dan air yang ada di dalamnya keluar dari tubuh sebagai urine (gbr. 5).

Gbr. 5.  Feed back negatif pengaturan sekresi hormon antidiuretik (ADH)

Jika ada aldosteron (dilepaskan dari cortex adrenal) aktif pada tubulus distal, maka terjadilah penyerapan kembali air dan Na+ (Gbr.6). Dalam pertukaran dengan Na+, ion potassium (K+) diekskresi.

Parathormon dilepaskan dari kelenjar parathyroid. Hormon ini disekresi bila kadar serum Calsium rendah. Akibat lanjutnya adalah rearbsorbsi ion calcium di tubular meningkat dan penyerapan kembali ion Phosphat (PO4 2- ) menurun. Oleh karenanya, kadar serum calcium meningkat.

Pengaturan asam-basa mencakup rearbsorbsi dan mengubah paling banyak bicarbonat (HCO3-), dan mensekresi H+ yang kelebihan. Fungsi tubulus distal yang lainnya adalah mempertahankan pH cairan ekstrasel (ECF) dalam rentang  antara 7.35-7.45. pada tubulus distal, ion K+ juga disekresi ke dalam filtrat. Ketika filtrat meninggalkan tubulus dan masuk ke dalam duktus kolektivus, disebut urine. Pemekatan terakhir air terjadi di duktus kolektivus.

Fungsi dasar dari nephron adalah membersihkan atau menjernihkan plasma darah dari senyawa-senyawa yang tidak perlu. Setelah glomerulus menyaring darah, tubulus memisahkan cairan tubulus dari porsi yang diinginkan dan porsi yang tidak diinginkan. Porsi yang diinginkan dikembalikan ke darah dan yang tidak diinginkan dikeluarkan ke dalam urine. Dari yang difiltrasi 125 cc/menit, 1 cc nya menjadi urine; dan 124 cc dikembalikan ke darah.

Gbr.6. Feed back negatif dan positif pengaturan sekresi renin-angiotensin-aldosteron

Ureter
Ureter adalah tabung yang panjangnya 25-35 cm dan diameter 2-8 mm yang melewatkan urine dari ginjal ke kandung kemih. Transportasi urine dari ginjal ke kandung kemih dibantu oleh kontraksi peristaltic 1-5 kali permenit. Ureter dipersyarafi oleh serabut-serabut syaraf sympatic dan parasympatic. Serabut syaraf afferent dari ureter memegang peranan penting dalam merangsang nyeri akut yang hebat (kolik renal) karena sumbatan dan lewatnya batu ureter.

Pada saat ureter masuk kandung kemih bungkusan mukosa membran saraf seperti katup uretero-vesical yang mencegah kembalinya urine ke dalam ureter saat kandung kemih berkontraksi. Karena pelvis renal menampung urine hanya 3-5 cc, maka ginjal bisa rusak akibat urine balik ke area ini.

  
Gbr. 7a. Ureter dan hubungannya
             ke ginjal dan kandung kemih                                               
7b. Posisi ureter saat masuk ke
      dinding kandung kemih


Kandung kemih
Kandung kemih adalah kantong penyimpanan yang berlipat-lipat yang terdiri dari jaringan otot yang elastis yang mampu mengembang (Gbr. 8). Fungsi utamanya adalah bekerja sebagai penampung urine. Dengan demikian, bila tampungan urine dalalm kandung kemih sudah mencapai 200-250 cc akan menyebabkan distensi ringan dan timbul keinginan untuk mengeluarkan urine atau berkemih. Ketika jumlah urine mencapai 400cc, rasa tidak nyaman mulai muncul. Proses pengosongan kandung kemih disebut micturition. Bisa juga menggunakan Istilah berkemih dan urinasi. Kapasitas kandung kemih beragam pada setiap individu, berkisar antara 1000 -1800cc.

Keinginan untuk berkemih tergantung pada keutuhan stretch reseptor pada dinding kandung kemih. Kandung kemih yang menggelembung merangsang stretch receptor, menyebabkan refleks kontraksi kandung kemih dan bersamaan dengan relaksasi dari spinchter internal. Kondisi ini diikuti dengan relaksasi sphincter eksternal, dibawah kontrol voluntary, dan pengosongan kandung kemih (Gbr. 9a, dan 9b). Serabut-serabut saraf parasimpatik dalam kandung kemih secara aktif dilibatkan dalam micturition, koordinasi kontraksi bladder, dan relaksasi sphincter.

        

Gbr. 9a. Pengontrolan refleks miksi yang     
             sederhana saat secara sadar ingin 
             berkemih
Gbr. 9b. Pengontrolan refleks miksi, saat
             secara sadar ingin berkemih

Kontraksi voluntary dari spinkter eksternal yang terdiri dari otot skeletal, merupakan reaksi yang dipelajari, karena tergantung dari ketepatan fungsi neurologyc. Injury pada saraf yang mempersarafi kandung kemih, urethra, spinal cord, atau motor area dari korteks dapat mengakibatkan incontinence. Nyeri atau kesulitan urineren merupakan kondisi abnormal dan perlu perhatian medik yang segera. Mukosa membran dinding  kandung kemih memiliki kemampuan phagositosis. Aliran urine yang searah dari ginjal ke kandung kemih juga menjaga melawan infeksi yang asending atau naik.

Keluaran urine atau urine out put normalnya kurang lebih 1500 cc/hari, yang bervariasi tergantung makanan dan minuman yang dikonsumsi. Volume urine yang dihasilkan pada malam hari kurang  dari setengah dari yang dihasilkan pada siang hari sebagai akibat pengaruh hormonal. Pola diurnal dari urineren ini normal. Banyak orang urineren 5-6 kali sehari dan jarang pada malam hari.


Gbr.8. penampang kandung kemih yang menunjukkan area trigone (segitiga)

Urethra

Urethra merupakan saluran kecil yang keluar dari kandung kemih ke bagian luar dari tubuh (Gbr. 10). Fungsi utamanya adalah mengeluarkan urine. Panjangnya pada wanita 3-5 cm dan letaknya tepat dibelakang symphysis pubis dan anterior vagina. Panjang urethra pria kurang lebih 20 cm,  berasal dari kandung kemih dan memanjang sepanjang penis. Fungsinya sebagai saluran urine dan semen. Normalnya, urethra mengandung bakteria. Turbulansi urine yang mengalir melalui uretrha membilas juga debris dan bakteria. Mukosa membran urethra mengsekresi mukus yang bacteriostatic.

Fungsi ginjal yang lainnya

Selain fungsinya sebagai pengatur keseimbangan cairan dan komposisi cairan ekstrasel, ginjal juga berfungsi dalam memproduksi erythropoietin, produksi dan sekresi renin, dan menggiatkan vitamin D.

Erythropietin diproduksi dan dilepaskan sebagai tanggapan terhadap menurunnya tegangan oksigen dalam darah yang disupply ke ginjal. Erythropoietin merangsang produksi sel darah merah oleh sumsum tulang. Defisiensi erythropoietin mengakibatkan anemia pada gagal ginjal. Vitamin D dimetabolisme oleh ginjal dari bentuk yang tidak aktif menjadi metabolit aktif. Gangguan fungsi ini menyumbang terjadinya renal osteodysthrophy.


Gbr. 10. Organ pelvik yang berhubungan dengan kandung kemih
dan urethra pada wanita (A) dan pria (B)

Renin penting dalam pengaturan tekanan darah (gbr. 6). dia dilepaskan dari sel-sel granular  arteriole afferent. Cel-cel ini bersama dengan macula densa dari tubulus distal convoluted dan cel-cel mesangial, membentuk juxtaglomrular aparatus. Renin dilepaskan sebagai respon terhadap menurunnya perfussi darah arterial, renal ischemia, deplesi ECF, norephinephrin, dan konsentrasi Na+ urine meningkat. Renin mengkatalisa pecahan dari plasma protein angiontensinogen kedalam angiontensin I, sesudah itu mengubahnya ke angiontensin II. Angiontensin II merangsang pelepasan aldosteron dari korteks adrenal, dan ini menyebabkan  retensi Na+ dan air, yang mengakibatkan peningkatan volume ECF. Angiontensin II juga menyebabkan penambahan vasokonstriksi periferal. Peningkatan ECF dan vasokonstriksi menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan darah, yang secara normal bertindak menghambat pelepasan renin. Produksi renin yang berlebihan bisa merupakan factor yang menyumbang pada etiology hypertensi renal.

Prostaglandin,
Prostaglandin (PGs) secara stuktur berhubungan dengan kelompok dari 20 carbon asam lemak dengan 5 cincin carbon. Mereka disintesa 0leh sebagian besar jaringan tubuh dari prekusor asam arrachnoid, sebagai tanggapan terhadap rangsangan yang tepat. PGs, yang terlibat dalam pengaturan fungsi sel dan defens host, menggunakan pengaruh utamanya pada sel-sel atau jaringan yang dekat dengan tempat dimana mereka disintesa.

Pada ginjal, syntesis PG terjadi terutama di medulla. Ginjal mengsekresi bermacam-macam PG. Selanjutnya PGs ini melakukan vasodilatasi untuk menambah peningkatan aliran darah ke ginjal dan menambah ekskresi Na+. Mereka melawan efek vasokonstriksi dari angiontensin dan norephinephrin. PGs renal bisa mempunyai efek sistemik dalam menurunkan tekanan darah dengan menurunkan tahanan tahanan systemic.

Makna dari PGs ini dikaitkan dengan peran ginjal dalam menyebabkan hypertensi. Pada gagal ginjal dengan hilangnya fungsijaringan parenchymal, faktor vasodilator renal ini juga hilang. Ini mungkin salah satu gaktor yang menumbang terjadinya hypertensi pada gagal ginjal.